Tuesday, April 23, 2013

“ SAAT MENTARI KEMBALI TERSENYUM ” ---- Novel Arwan Maulana

“PAGI HARI DI PERBATASAN”

Pagi itu seperti biasa Satrio bangun pagi-pagi kemudian ke sumur mengambil air wudhlu dan pergi ke masjid yang hanya beberapa meter saja dibelakang rumahnya. Dengan kesungguhan dan khidmat Satrio menyerukan panggilan shalat shubuh. Beberapa saat kemudian beberapa orang laki-laki dan perempuan terlihat berjalan dipagi yang masih gelap menuju ke masjid. Hanya sedikit semburat kemerahan di ufuk timur tanda sang surya bersiap menyinari dunia. Hanya tiga keluarga saja yang terlihat rutin melakasanakan shalat shubuh berjamaah di masjid Al-Huda yang terletak di dusun Candi daerah perbatasan paling utara kabupaten Gunungkidul.  Setelah selesai melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid, Satrio yang saat itu masih duduk di kelas III SMP N 1 Semin, membantu kedua orang tuanya membuka warung dipasar Candi. Pak Herawan dan Bu Herawan orang tua Satrio pagi-pagi juga sudah bangun mempersiapkan dagangannya.  Selesai membantu orang tuanya Satrio membangunkan Ira adhiknya yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas VI dan Nita adhiknya yang paling kecil yang masih duduk di Taman Kanak-kanak untuk mandi. Setelah adhik-adhiknya selesai mandi Satrio pun kemudian mandi dan bersiap untuk berangkat kesekolah bersama teman-temannya dengan sepeda pemberian ayahnya. Sambil membawa dagangan ibunya untuk dititipkan diwarung sebelah sekolahnya. Tanpa rasa malu Satrio membawa dagangan ibunya sambil berangkat kesekolah. Satrio bukanlah anak yang pandai tapi juga tidak terlalu bodoh. Pulang sekolah Satrio mampir diwarung tempat dagangan ibunya dititipkan dan mengambil uangnya. Sesampai dirumah Satrio memberikan uang dagangan itu kepada ibunya. Karena kegigihannya, usaha orang tua Satrio pun bertambah maju dan akhirnya bisa membuka beberapa restoran di beberapa kota.
Seperti remaja-remaja yang lainnya Satrio juga merasakan jatuh cinta . Cinta pertamanya dengan seorang gadis yang setahun lebih tua darinya. Gadis itu bernama Vita, seorang gadis yang manis dimana banyak teman-teman Satrio yang suka padanya. Teman-teman Satrio mengatakan bahwa Satrio beruntung mendapatkan gadis secantik Vita. Karena belum pernah pacaran sebelumnya Satrio masih bingung untuk bicara dan mengungkapkan perasaannya kepada Vita. Seperti teman-teman lainnya akhirnya Satrio mengungkapkan perasaannya melalui surat yang dititipkan pada teman Vita yang bernama Ani. Setiap bertemu, Vita dan Satrio bukan ngobrolin hubungan mereka, tapi ngobrolin hal-hal lain yang jauh dari masalah cinta. Hubungan mereka semakin erat setelah lulus SMP Satrio melanjutkan ke SMA dimana Vita juga sekolah disana. Walaupun sebenarnya nilai Satrio lebih dari cukup untuk diterima di SMA negeri. Tapi karena cintanya dia memilih masuk SMA swasta mengikuti jejak kekasihnya. Karena merasa mendapat motivasi Satrio yang punya otak pas-pasan itu mampu mendapatkan ranking dikelasnya.
Karena kelas satu masuk siang maka Satrio hanya bisa bertemu Vita bila pagi hari saat dia mengantarkan Vita berangkat sekolah. Disiang hari saat Vita pulang sekolah Satrio sering meminjamkan motornya kepada Vita untuk dibawa pulang dan sorenya Vita menjemput Satrio kesekolah. Semakin hari mereka semakin mesra, dan makin membuat iri teman-teman Vita maupun teman-Satrio. Orang tua Vita tahu kalau anaknya pacaran dengan Satrio demikian juga orang tua Satrio pun mengetahui hubungan mereka, dan sepertinya mereka berdua mendapat respon positif dari kedua orang tua mereka.
Satrio sering datang kerumah Vita bila hari libur, dan Vita pun sering main kerumah Satrio yang ternyata masih ada sedikit hubungan keluarga. Orang tua nenek Vita ternyata adalah orang tua dari neneknya Satrio juga.
Suatu hari saat hari libur Satrio main kerumah Vita dan mendapati rumah itu kosong, Satrio yang sebelumnya sudah bilang kalau mau datang dan ternyata Vita nggak kelihatan terlihat kesal. Melihat tak seorangpun ada dirumah kemudian Satrio memutuskan untuk pulang, namun baru beberapa langkah tiba-tiba ada tangan yang lembut menutup matanya dari belakang. Satrio kaget, tapi segera tahu tangan lembut itu adalah Vita.
“Kaget yah ?” kata Vita.
“Nggak” jawabnya singkat menghilangkan rasa terkejutnya.
“Kamu ngerjain aku yah ?” kata Satrio sambil mencubit hidung Vita dengan gemas. Ketika mendengar motor Satrio datang Vita menutup dan mengunci pintu dan sembunyi dibelakang rumah, saat melihat Satrio kelihatan kesal dan akan pulang Vita keluar dari persembunyiannya dan mendekap mata Satrio dari belakang. Mereka berdua kemudian masuk rumah dan bercanda mesra sekali.
Walaupun lebih tua dari Satrio Vita kelihatan manja ketika berdua saja dengan Satrio. Walau lebih muda Satrio yang memang sudah terbiasa memanjakan adhik-adhiknya kelihatan tak canggung ketika Vita menyandarkan tubuhnya didada Satrio. Entah sengaja atau tidak saat bercanda kedua wajah mereka berdekatan, dekat sekali sehingga mereka berdua terdiam saling pandang berbicara dari hati ke hati lewat mata. Satrio yang belum berpengalaman ssedikit gelagapan berdekatan wajah seperti itu. Tapi nalurinya sebagai laki-laki muncul ketika itu, dan perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Vita. Vita memejamkan matanya dan bibir mereka berdua bersentuhan. Sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh Satrio sebelumnya. Darahnya berdesir kemudian memeluk Vita yang kelihatan masih terdiam memandang Satrio.
“Vit,.. aku sayang sama kamu” kata Satrio berbisik lirih ditelinga Vita.
“Aku juga sayang sama kamu Satrio,” jawab Vita sambil mempererat pelukannya. Mereka berdua terhanyut dalam gelora cinta yang menggebu.
Ini untuk pertama kalinya Satrio mencium gadis, dan dia menikmati bumbunya cinta itu.
Satrio pun semakin sayang sama Vita begitu juga dengan Vita semakin cinta dengan Satrio. Satrio yang biasanya jam lima sore udah pulang, saat itu menunggu adzan maghrib dan shalat berjamaah bersama dirumah Vita bersama kedua orang tua Vita.
Sesampai dirumah Satrio masih mengingat-ingat kejadian dirumah Vita itu.
Pengalaman pertamanya itu sungguh membuatnya kelihatan riang hari itu. Pagi-pagi Satrio yang biasanya hanya menunggu Vita dipertigaan jalan tempat Vita bersama teman-temannya menunggu angkutan pedesaan, hari itu menjemput Vita sampai dirumah dan mengantarkannya hingga depan gerbang sekolah mereka. Mereka ngobrol sebentar dan kemudian Satrio pulang dan Vita masuk ke sekolah. Demikian berlanjut setiap hari Satrio selalu menjemput Vita kerumah dan mengantarkan hingga gerbang sekolah. Berbeda sebelum kejadian dirumah Vita itu. Setahun sudah hubungan mereka dan mereka berdua semakin lengket seperti perangko dan suratnya.
Setiap kenaikan kelas SMA Muhammadiyah tempat mereka sekolah mengadakan penghijauan di gunung-gunung yang tak jauh dari sekolah mereka dan rapor dibagikan setelah penghijauan selesai melalui wali kelas masing-masing. Saat itu Vita kebingungan mencari Satrio, kesana kemari Vita bertanya namun tidak ada yang melihat Satrio.
Vita kelihatan khawatir sampai akhirnya terdengar suara memanggilnya.
“Vita, dicari Satrio tuh” kata Hari teman sekelas Satrio.
Dia dimana Har ?” tanya Vita khawatir.
“Tadi saat menanam bibit pohon di lereng sebelah utara dia terpeleset dan jatuh sampai dibawah, dia pingsan dan saat sadar nyariin eloeVit,” kata Hari memberi tahu.
“Satrio jatuh. ? gimana keadaannya sekarang, dimana dia sekarang ?” Vita terlihat khawatir sekali dan matanya berkaca-kaca.
“Satrio dirawat disalah satu rumah penduduk disebelah sana,” kata Hari sambil menunjuk salah satu rumah penduduk. Dengan tak sabar Vita bersama bergegas menuju rumah itu.
“Vita mana Wik,?” Satrio mencoba untuk bertanya pada Wiwik teman sekelasnya juga.
“Vita bentar lagi kesini Sat,” jawab Wiwik. Sementara diruangan itu ada wali kelas 1A bapak Suharno dan beberapa guru yang lain. 
“Udah,.. elo berbaring saja Sat, !” wiwik menahan Satrio yang ingin bangun. Tidak berselang lama Vita sudah sampe diruangan tempat Satrio berbaring.
“Disebelah mana Har, ? tanya Vita kelihatan nggak sabar.
“Disebelah sini,” kata Vita sambil menunjuk kamar tempat Satrio. Ketika masuk ruangan itu Vita kaget melihat kepala Satrio yang dibalut perban dan tangan kirinya yang di gif.
“Satrio,…” hanya itu kata yang sempat terucap dari mulut Vita, karena setelah itu dia membenamkan kepalanya didada Satrio sambil menangis. Beberapa guru dan teman-teman Satrio menenangkan Vita.
“Vit,.. Satrio sudah diobati kok,”kata Pak Suharno sambil memegang lengan Vita. Vita bangkit dan memandang orang yang dicintainya itu dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kamu jadi begini Sat ?” tanya Vita sambil duduk disebelah kekasihnya .”Nggak apa-apa kok Vit, hanya lecet-lecet sedikit dan udah diobati kok,” kata Satrio menangkan Vita.
“Sampai tangan di gip begini kamu bilang hanya lecet-lecet ?” Vita kelihatan khawatir.
“Bener nggak apa-apa, aku masih bisa berdiri dan berjalan kok” kata Satrio meyakinkan Vita.
“Kamu bisa jalan nggak Sat ?” tanya Pak Suharno.
“Bisa pak, sakitnya udah hilang kok “ kata Satrio yakin.
“Baiklah kalau begitu, Har,.. kasih tahu teman-teman kamu kalau rapor kelas 1A dibagi disini !” Pak Suharno menyuruh Hari. Hari adalah ketua kelas 1A, dia keluar dan memberi tahu teman-temannya untuk berkumpul dihalaman rumah itu. Vita yang masih mengkhawatirkan keadaan Satrio tak memikirkan rapor lagi sampai Ibu Surya datang dan memberikan rapornya. Ternyata rapor kelas II IPA sudah dibagikan semua, tinggal Vita saja yang belum.
“Makasih Bu,” kata Vita sambil menerima rapornya.
“Nilai kamu lumayan bagus Vit,” kata Ibu Surya memberi tahu Vita karena rapor itu tak segera dibuka olehnya.
Kelas yang lain rapornya sudah dibagikan dan hampir semua siswa kumpul ditempat yang telah ditentukan untuk mengumumkan siswa yang berprestasi dan mendapatkan hadiah.
Pak Suharno masuk dan memberikan rapor Satrio,
“Satrio, nilai kamu bagus, mendapat ranking 3,” kata Pak Suharno sambil tersenyum menyerahkan rapor Satrio. Satrio kelihatan tersenyum senang demikian juga Vita tersenyum bangga dengan hasil yang diperoleh kekasihnya.
“Mari kita kumpul dengan yang lain untuk mendengarkan pidato Kepala Sekolah dan dan pengumuman siapa siswa yang berprestasi tahun ini,” kata Pak Suharno.
Satrio berusaha untuk bangun dan berdiri, kemudian berjalan pelan dituntun Vita. Setelah semua siswa berkumpul, Kepala Sekolah memberikan pidato kepada semua siswa yang sehabis menerima rapor akan libur lama. Setelah pidato Kepala Sekolah selesai Pak Zainuri yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang berprestasi.. Sampai tiba giliran pengumuman untuk kelas 1A yaitu kelasnya Satrio.
Satrio yang sudah tahu mendapat ranking 3 bersiap-siap sambil digandeng Vita. Juara 1 kelas 1A adalah wiwik Juara kedua Anto dan Satrio Juara ke 3. Berjalan pelan-pelan sambil di gandeng Vita membuat para siswa bersorak dan bertepuk tangan demikian juga dengan para guru. Satrio begitu senang memperoleh nilai yang memuaskan. Selesai apel itu kemudian para siswa diperbolehkan pulang kerumah masing-masing. Satrio yang tidak bisa mengendarai motornya hanya duduk dibelakang sementara Vita yang didepan mengendarai motor.

“KECEMBURUAN VITA”
Libur telah usai dan anak-anak sekolah sudah mulai belajar aktif kembali. Satrio pun sudah sembuh dari sakitnya, hanya tangannya saja yang masih butuh waktu untuk sembuh. Setiap harinya yang biasanya Satrio yang mboncengin Vita, sekarang berbalik Vita yang mboncengin Satrio. Tak berapa lama tangan Satrio akhirnya sembuh seperti sediakala dan suda bisa naik motor sendiri.
Suatu siang di kantin depan sekolah banyak cewek siswa kelas satu nongkrong dan ngobrol.
“Eh siapa tuh cowok ?” kata cewek yang terlihat paling manis diantara yang dikantin itu. “Nggak tahu tuh,” kata temen yang lainnya.  “Wah boleh juga tongkrongannya” diikuti tawa ceria cewek-cewek itu. Satrio tidak menyadari bahwa dia sedang diperhatikan, dia hanya duduk saja dijok motornya menunggu Vita pulang. Sudah setengah jam Satrio menunggu tapi yang ditunggu tak kunjung keluar dari pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba sekitar 30 meter dari Satrio menunggu terlihat ribut-ribut seperti perkelahian. Cewek-cewek pada menjerit dan otomatis perhatian orang tertuju ke anak yang sedang berkelahi itu. Melihat itu Satrio yang dari tadi cuma bengong mendekat dan melihat siapa yang berkelahi.  “Hei,..loe jangan sok jago disini ya !!” kata seorang diantara mereka dengan nada tinggi.  “Hei bung, lebih baik eloe pergi dari hadapanku sebelum gue tebas eloe pake ini,” yang lain menjawab sambil mengeluarkan sebilah pisau.  Semua mundur melihat anak itu memegang sebilah pisau. Satrio tidak tinggal diam, dengan tenang dia melangkah mendekati kedua orang itu.  “Hei bung, jangan buat keributan disini !” kata Satrio dengan tenang sambil berdiri diantara 2 orang itu.  Dalam hati sebenarnya Satrio ngeri juga melihat pisau yang mengkilat itu, tapi rasanya akan lebih parah kalau dia mendiamkan perkelahian itu sambil berharap bahwa polisi datang.
Satrio berusaha melerai dan mengulur waktu sampai polisi datang.
“Hei loe,… jangan sok pahlawan yah, !! lebih baik kamu menyingkir sebelum pisau ini merobek perutmu” kata anak yg memegang pisau sambil mengacungkan pisaunya. Dengan tenang Satrio yang memang mengikuti beladiri karate dan sudah dan 2 juga mengikuti pencak silat Tapak Suci, diancam seperti itu tidaklah gentar.  “Bung,… tidakkah anda pikir bahwa bila anda melukai orang disini dan semua orang yang disini melihat, anda bisa dikeroyok dan mungkin anda akan dihakimi massa yang disini, sadar bung… anda bkan siapa-siapa disini, saya baru sekali ini melihat anda sementara setiap hari saya disini,” kata Satrio diplomatis berusaha menurunkan nyali orang itu. Ternyata benar juga, mendngar apa yang dikatakan Satrio orang itu agak sedikit ragu dan terdiam.  “Bung,.. lebih baik anda simpan kembali pisau anda atau polisi akan datang dan menangkap anda” Satrio memanfaatkan keadaan yang dia merasa sudah bisa mengendalikannya.  Perlahan orang itu menurunkan senjatanya dan memasukkan kedalam tasnya. Melihat itu Satrio menyuruh pergi orang yang berkelahi tadi sementara dia mendekati anak yang membawa senjata itu.  “Eh sorry,… eloe anak kelas satu yah ?” tanya Satrio kepada anak tu yang memang terlihat memakai seragam sekolah SMA. “iya” jawabnya singkat.  “Oh ya, kenalkan, Satrio,” kata Satrio sambil mengulurkan tangannya.
“Andi’” jawabnya singkat sambil mengulurkan tangannya juga untuk bersalaman. Kemudian Satrio memegang pundak Andi,  “Sudahlah Ndi, lebih baik kamu masuk kelas sekarang, teman-temanmu sudah pada masuk tuh,” kata Satrio sambil membimbing Andi ke pintu gerbang masuk SMA. Andi ngeloyor pergi saja tanpa menengok masuk ke sekolah. Setelah Andi berlalu Satrio tengak-tengok,
“Wah mana sih si Vita, lama amat nggak keluar-keluar” kata Satrio dalam hati. Sementara orang-orang yang tadi melihat perkelahian itu sudah bubar hany tinggal cewek-cewek yang berbisik-bisik sambil ngelirik Satrio.
“Wah berani juga yah tuh cowok,” kata salah seorang dari mereka.
“Iya yah, padahal resikonya dia yang ditusuk lho,” kata cewek yang lain.
“Siapa sih tuh cowok,” kata salah cewek yang terlihat paling kalem diantara mereka. “Naksir nih, ? kalau naksir ngomong, biar aku yang bilang nih,” kata cewek yang kelihatan paling tomboy.
“Nggak,” jawab si kalem dengan malu-malu sambil melirik Satrio. Satrio pun tidak menyadari kalau dia diperhatikan karena pikirannya hanya tertuju pada pintu gerbang menunggu Vita yang belum juga kelihatan.  Karena terlalu lama menunggu, sementara siang itu matahari panas sekali dia merasa haus, dan berjalan menuju kantin tempat cewek-cewek yang membicarakan dirinya. Melihat Satrio datang cewek-cewek itu kembali bisik-bisik,  “Eh orangnya kesini tuh “ kata si tomboy.
“Wah,.ganteng juga yah “ kata mereka sambil melirik Satro yang kelihatan cuek aja.
“Bu, minta es cendolnya, haus nih “ kata Satrio kepada Ibu kantin.  “Ya mas Satrio, “ jawab si Ibu yang ternyata udah tahu namanya, karena memang Satrio sering makan disitu.
“Haus ya mas ? kayaknya ada yang ditunggu nih ?” kata cewek-cewek itu. Satrio hanya melirik saja sambil tersenyum.  “Walah cakep yah “ kata cewek itu sedikit dikerasin agar Satrio mendengar, tapi Satrio hanya cuek saja . Melihat umpannya tak berhasil si cewek nggak berhenti sampai disitu. Sementara Satrio dengan cueknya membawa gelas isi es cendol melewati cewek-cewek itu sambil melirik sedikit.  “Wah ada yang cakep nih” pikir Satrio dalam hati. Yang dilirik tersipu malu, teman-temannya kemudian berteriak serentak,  “Huuuuuu…” kata mereka hampir bersama. “Mas,… Dewi naksir nih” kata si tomboy sambil menarik cewek yang kelihatan kalem, manis dan terlihat paling cantik diantara mereka. Yang ditarik hanya menunduk sabil melirik kearah Satrio.
“Apa-apaan sih eloe Yun… nggak ah” kata cewek yang ternyata namanya Dewi.
“Alah Wi,.. eloe naksir kan sama dia ? ngaku aja deh,” kata si tomboy yang ternyata bernama Yuni.
“Ngaco loe ah” kata Dewi.  “Mas Satrio itu sedang nungguin pacarnya neng,” Ibu kantin memberi tahu.  “Oohhh.. “ kata mereka hampir bersamaan. Dewi yang mendengar itu terlihat agak sedikit kecewa.  “Nah loe Wi, ada sainganya tuh, berani nggak ?” tantang Yuni. Sebentar kemudian terlihat ada cewek manis, tinggi dan sexy menghampiri Satrio, cewek itu tak lain adalah Vita. “Wah ternyata ceweknya itu ?” tanya Yuni kepada Ibu kantin.  “Iya neng, itu namanya Vita,” Ibu kantin memberi tahu.  “Kelihatan serasi ya neng, yang cowok ganteng, tinggi, bersih dan yang cewek juga cakep, tingi sexy lagi, “kata Ibu kantin bersemangat.  “Iya bu,..” kata Yuni singkat sambil melihat Satrio yang sedang berbicara sesuatu dengan Vita.  “Lama amat sih Vit ?” tanya Satrio sedikit jengkel.
“Tadi temen-temen pada ngumpul buat acara Ultahnya si Ani Sat,” jawab Vita.
“Iya,..tapi kamu kan bisa ngomong dulu, jadi aku nggak nungguin lama disini” kata Satrio masih jengkel.  “Kalau nggak mau nungguin aku ya udah, kenapa nggak pulang duluan” kata Vita kelihatan tersinggung sambil berjalan meninggalkan Satrio.  “Hei,.. ntar dulu,.. aku belum selesai ngomong nih “ kata Satrio sambil menarik tangan Vita.  Dewi yang melihat kejadian itu hanya memperhatikan saja ta berkedip, sementara teman-temannya cekikikan melihat Dewi yang terlihat sewot melihat adegan itu. “Cemburu niyeee,” kata mereka hampir serentak membuat Dewi malu dan masuk kekantin.
“Mas Satrio itu orangnya baik lo neng, nggak sombong,” kata Ibu kantin.  ”Dia sekolah disini juga ya bu ?” tanya Dewi.  “Wah ada yang pingin tahu nih,” kata Yuni genit. Dewi hanya diam sambil melirik Yuni saja  menunggu jawaban Ibu kantin.  “Iya neng, kalau nggak salah dia kelas dua dan ceweknya itu namanya Vita, dia kelas tiga,” kata Ibu kantin memberi keterangan.
“Wah beruntung juga ya tuh cewek,” kata Dewi. Ibu kantin hanya tersenyum saja mendengar kata-kata Dewi yang terlihat polos.  “Kamu gimana sih, aku udah nungguin dari tadi kok malah kamu mau main kabur aja,” kata Satrio sewot.  “Habis kamu nunggu kelihatan nggak iklhas gitu kok,” kata Vita berkilah.  “Oohh.. pantes aja kamu betah nunggu disini, banyak cewek-cewek cantik merhatiin kamu to, “ kata Vita terlihat cemburu.  “Kamu cemburu nih ?” kata Satrio sambil mendekati Vita.
“Siapa yang cemburu,” Vita berkilah.  “Kamu nggak percaya lagi sama aku Vit ?” Satrio kelihatan kurang senang dengan perkataan Vita.  “Udah ah, aku nggak mau bertengkar dijalan hanya karena hal sepele seperti ini, ayo pulang,” kata Vita sambil mengajak Satrio pulang.  “Wah kelihatannya rukun lagi bu,” kata Yuni. Ibu kantin hanya tersenyum saja mendengar komentar-komentar gadis-gadis itu.
Pertengkaran Satrio dan Vita ternyata tak berhenti sampai disitu saja, sesampainya dirumah Vita, Vita yang biasanya setelah membikinkan minum Satrio terus duduk disamping Satrio dan ngobrol kesana-kemari, tapi kali ini tidak. Selesai membikinkan minum Satrio, Vita nonton TV tanpa menghiraukan Satrio. Melihat itu Satrio hanya tersenyum saja dan mendekati Vita yang duduk di karpet bawah.
“Vit,… kamu tersinggung yah dengan kata-kataku didepan sekolah tadi, ?” kata Satrio berusaha mencairkan suasana. Vita diam saja sambil menekan remote control mencari chanel TV.
Satrio memegang pundak Vita, “Vit,… ngomong dong say,…okey, aku minta maaf atas kata-kataku tadi, dan aku janji,… aku tidak akan mengulangi lagi, I swear !,” kata Satrio sambil menggeser duduknya kedepan Vita.  “Sungguh, ?” kata Vita sambil memandang kekasihnya itu. Satrio menjawab dengan ciuman dikening orang yang dicintainya itu dengan mesra.  ”Yah,… aku janji,” kata Satrio sambil memegang rangan Vita dan menariknya untuk berdiri. “Cewek yang dikantin tadi siapa, ?” tanya Vita ingin tahu.  “Aku juga baru tadi melihatnya, mungkin anak kelas 1 kali,” jawab Satrio kelihatan kurang senang dengan pertanyaan Vita.  “Vit,… aku pulang dulu yah,…udah jam 3 lebih nih, mau nganterin mama kondangan,” kata Satrio sambil memegang pundak Vita.
“Sebentar lagi dong Sat,… nunggu mama belum pulang dulu,.. paling bentar lagi,” kata Vita sambil menarik tangan kekasihnya itu.  “Hmm,… okey deh, tapi… kalau jam setengah empat mama kamu belum pulang, aku pulang yah, !!?” kata Satrio.  “Iya,…sayangku “ kata Vita mesra sambil mengamit lengan Satrio dan menyandarkan kepalanya dipundak Satrio.  Bel istirahat berbunyi, para siswa keluar dari kelas masing-masing. Ada yang ke kantin untuk makan, ada yang duduk saja, dan ada yang ngerumpi saja didalam kelas. Terlihat beberapa cewek didalam kelas 1B asyik ngobrol sambil tertawa-tawa.  “Yeee,… siapa bilang gue naksir dia,…masih banyak yang lebih ganteng dari dia lagi,” kata Dewi dengan jengkel.  “Alah ngaku aja deh Wi,… kalau eloe bener naksir sama tuh cowok, kita mau bantu kok, ya nggak Res, ?” kata Yuni bersemangat.  “Iya Wi,…kita pasti bantu eloe kok,” kata Resti bersemangat pula.  “Nggak tahu deh, cowok itu kan udah punya cewek lagi Yun,” kata Dewi.  “Tenang aja, serahkan semua ama gue, pokoknya eloe tahu bersih aja Wi, gue tahu loe suka sama tuh cowok dan gue nggak ingin lihat eloe sedih nggak bisa ngedapetin tuh cowok,” kata Yuni sambil memeluk pundak Dewi.  “Bener kan loe suka sama Satrio, “kata Resti.
“Iya sih,” kata Dewi agak malu.  “Nah gitu dong Wi,” kata Yuni.  “Sekarang kita keluar dan makan dulu, udah laper nih, “ kata Yuni sambil menepuk perutnya.  “Dasar gendut,  mikirnya makan mulu,” kata Resti meledek Yuni.  Yang diledek cuma tertawa saja sambil berjalan keluar menuju kantin.
“Nita,… mas Satrio udah pulang belum, ?” tanya mama Satrio kepada Nita.  “Tadi nganter mbak Vita ma,” jawab Nita.  “Nita,… telphon mas suruh cepat pulang geh,” kata mama Satrio.  “Iya ma, “ jawab Nita.  “Ada apa Nita, “ tanya Satrio lewat handphonenya.  “Mas diminta cepat pulang sama mama,” kata Nita.  “Okey,.. nggak nyampe 10 menit mas nyampe, bilang ke mama yah, !” kata Satrio.
“Iya mas,” jawab Nita sambil menutup telphon.  “Kamu denger sendiri kan Vit,” kata Satrio kepada Vita yang kelihatan cemberut.  “Ayo senyum dong sayang, jangan cemberut gitu,” rujuk Satrio sambil memegang kedua pundak Vita.  “Bentar lagi mama kamu juga pulang,.. aku pulang yah, ??!” kata Satrio sambil mengelus pipi Vita dengan kedua tangannya.  “Hmm,… hati-hati yah Sat,” kata Vita sambil memegang tangan kekasihnya itu.  “Iya,… nanti aku telphon kamu okey ,?” kata Satrio.
“He eh, .. “ kata Vita manja.  Satrio menghidupkan motornya, setelah memanasi motornya sebentar dia kemudian pulang. Vita memandang orang yang dicintainya itu sampai hilang di tikungan.
Sementara itu Dewi yang merasa dapat dukungan dari teman-temannya kelihatan senang sekali.
“Kamu hari ini kelihatan ceria banget Wi,” kata mama Dewi melihat anaknya tidak seperti biasanya.
“Biasa aja ma,…nilai ulangan Dewi bagus,.. nih lihat ma, !” kata Dewi sambil menunjukkan hasil ulangan kepada mamanya. Walau dalam hati sebenarnya bukan itu yang membuat Dewi gembira.
“Wah,… anak mama memang pinter,” puji mama Dewi sambil tersenyum memandang anaknya.
“Ma,… kak Danu kemana ma, “ kata Dewi menanyakan kakak laki-lakinya.  “Tadi katanya mau nyari komputer,” jawab mama Dewi.  “Jadi beli komputer nih, ?” tanya Dewi terlihat senang.  “Iya, katanya kakakmu perlu banget, ?” jawab mama Dewi.  “Wah, asyik juga nanti kalau ada komputer” kata Dewi sambil meninggalkan mamanya menuju kamarnya. Mamanya melihat Dewi dengan sedikit tanda tanya. Keluarga Dewi adalah keluarga terpandang. Ayahnya bekerja menjadi pemimpin cabang salah satu bank milik pemerintah di Wonosari, sedangkan ibunya menjadi kepala sekolah SMP N Semin.
Kakak Dewi yang bernama Danu masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Keluarga Dewi adalah keluarga yang taat beragama dan banyak disenangi oleh orang disekitarnya, karena suka menolong dan membantu orang yang kesusahan.

“ KEPERGIAN VITA “
Setahun kemudian Vita lulus SMA dan Satrio naik kelas tiga. Vita yang sudah lulus kemudian menyusul kakaknya ke Jakarta untuk kuliah disana.  “Sat,… kamu sayang aku kan, ?” kata Vita kelihatan sedih karena mau berpisah dengan kekasih yang sangat dicintainya.  “Aku sayang kamu Vit, bahkan sangat sayang sama kamu, “ kata Satrio sambil meraih tangan Vita. Vita tak mampu mengucapkan kata-kata lagi karena airmata telah membasahi pipinya, dia hanya menyandarkan kepalanya didada Satrio yang juga kelihatan sedih.  “Kamu jadi berangkat besok Vit, ?” tanya Satrio.
“Iya Sat,… “ kata-kata Vita kembali tertahan oleh isak tangisnya sambil memeluk lelaki yang telah dua tahun ini menjadi kekasihnya.  “Kalau begitu aku ingin habiskan hari ini bersama kamu, “ kata Satrio sambil merangkul dan mengajak berjalan kearah motor Satrio  Kita kemana sayang, “ kata Vita memanja.  “Aku ingin kepantai, seperti saat pertama dulu kita saling mengenal,” kata Satrio.
“Kamu masih ingat itu Sat, ?” kata Vita.  “Yah,… aku ingat sekali hari itu, “ jawab Satrio.
Tidak mau menunggu lama kemudian Satrio menghidupkam motornya dan mereka naik motor berdua menuju pantai Parangtritis tempat mereka dulu pertama saling merasakan getaran cinta. Pantai Parangtritis sekitar 1 jam perjalanan dengan motor dari rumah Satrio. Sesampai mereka berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan seolah tak ingin terpisahkan. Menjelang siang mereka masih saja bergandengan berdua sambil tertawa-tawa berlari-lari bermain ombak laut selatan. Kemudian Satrio berteriak lantang menghadap kelaut, “Hai Penguasa laut selatan, berilah kekuatan kepada cinta kami !!!”.  Kemudian Satrio memeluk Vita yang terlihat khawatir karena melihat ombak besar yang datang dan menerpa mereka.  “Satrio,… tolong…,” teriak Vita sambil menggapai tangan Satrio yang terlihat tak menyangka bahwa ombak itu demikian kuat menerpa mereka. Pegangan Vita lepas dan Satrio menarik tangan Vita yang akan terbawa ombak.  “Kamu nggak apa-apa sayang, ?” tanya Satrio khawatir.  Vita terlihat pucat karena kaget dan takut dengan kejadian yang baru saja di alaminya.  “Sat,… aku takut, “ kata Vita gemetar sambil memeluk Satrio erat sekali.
“Sudahlah sayang, aku masih disini melindungimu,” kata Satrio sambil membelai rambut Vita yang basah bahkan pakaian mereka basah.  “Satrio,… aku benar-benar takut,… aku takut kehilangan kamu,” Vita berkata sambil menangis dan gemetar.  “Aku sayang sama kamu sayang, aku tidak akan mengkhianati kamu,” Satrio berusaha meyakinkan Vita.  Beberapa orang yang melihat kejadian itu mendekat dan terlihat tim SAR mendekati mereka.  “Saudara tidak apa-apa ,?” tanya orang itu.
“Oh,… tidak apa-apa pak, dia hanya kaget saja,” kata Satrio .  “Syukurlah kalau begitu,” kata orang itu sambil berlalu. Sejenak mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Sat,… sandalku yang satu mana, ?” tanya Vita sambil melihat bahwa sandalnya yang kanan hilang. Satrio mencari kesana kemari namun tidak juga ketemu. Vita kelihatan kecewa sekali karena sandal itu pemberian Satrio kepadanya.  “Sat,… sandal itu pembelian kamu, dan aku akan membawanya besok,… tapi… yang sebelah malah hilang, “kata Vita dengan kekecewaan terlihat diwajahnya.
“Sudahlah Vit,… nggak apa-apa, kamu kan masih punya pemberianku yang lain,” kata Satrio berusaha menenangkan kekasihnya itu.  “Sandal itu adalah pembelian kamu yang pertama Sat, “ terlihat Vita sangat kehilangan.  “Sudahlah Vit,… mari kita pulang,” kata Satrio sambil merangkul Vita yang terlihat masih terpaku menatap kelaut.  Saat ombak menerpa mereka Vita terpeleset pasir tertarik oleh ombak dan sandal yang dipakai Vita lepas terbawa ombak laut selatan. Mungkin penguasa laut selatan marah dengan teriakan Satrio tadi dan mengambil sandal Vita yang merupakan barang pemberian Satrio yang paling disuka, dan mungkin juga pertanda, entah pertanda baik atau buruk.  Mereka sudah sampai dirumah Satrio yang kelihatan kosong. Satrio yang memang sudah biasa membawa kunci rumah kemudian membuka pintu dan mendapatkan secarik kertas tulisan adhiknya.  “Mas,… Nita, Ira, sama papa mama kerumah Bude di Klaten karena mas Dedi baru saja pulang dari Singapura tadi siang. Mas Satrio disuruh nyusul bawa mobil. Tadi Nita telphon mas tapi hp mas nggak aktif”  Ternyata sewaktu Satrio bersama Vita berangkat ke Parangtritis tak berselang lama Febri datang dan mengajak keluarga Satrio ke Klaten.  “Satrio kemana Om, “ tanya Febri kepada pak Herawan.  “Tadi katanya mau jalan sama Vita, “ jawab pak Herawan.  “Entar suruh nyusul kesana aja Om, kita duluan aja,” ajak Febri.  “Ya udah,… kita berangakat sekarang saja biar Satrio nanti nyusul.  Kemudian mereka semua berangkat dan Nita meninggalkan catatan kecil dimeja depan.  Keluarga Pak Herawan dengan keluarga kakak iparnya memang dekat sehingga sesuatu yang tidak terlalu penting saja mereka saling memberi tahu. Ibu Febri adalah kakak dari mama Satrio yang
 mempunyai satu orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan.  “Kamu mandi dulu Vit, badan kamu tuh lengket dan bau tahu, “ kata Satrio sambil mencubit hidung mancung kekasihnya itu.
“Badan kamu juga lengket dan lebih bau malah, “ kata Vita nggak mau kalah.
“Iya,… tapi kamu mandi duluan sayang, “ kata Satrio sambil mengelus pipi Vita dengan lembut dan mesra.  “Kalau begitu kita mandi bareng aja, gimana ?” ajak Vita sambil menarik tangan Satrio.
“Mulai nakal kamu ya,… nggak takut kamu, ?” kata Satrio bercanda.  “Siapa takut, !? kata Vita yakin.  “Sayang,… kamu mandi duluan aku mau telphon papa dulu, “ kata Satrio sambil membelai rambut hitam dan panjang kekasihnya itu.  “Telphonnya nanti aja setelah mandi, “ rengek Vita sambil memeluk Satrio dari belakang. Sambil membalikkan badan Satrio meraih pinggang Vita sambil memandangnya dalam-dalam. Dipandang seperti itu Vita hanya bisa diam dan menyandarkan kepala didada Satrio yang bidang.  “Okey,… kamu duluan aku ngambil handuk dulu kekamar, “ kata Satrio sambil melepaskan pegangan di pinggang Vita. Vita hanya mengangguk saja sambil mengikuti Satrio dari belakang.  “Kok ikut kekamar juga sih, ?” kata Satrio sambil tersenyum.  “Pokoknya kemana-mana ikut kamu, “ kata Vita sambil meraih tangan Satrio. Satrio hanya tersenyum saja melihat tingkah manja kekasihnya. Setelah mengambil handuk mereka kekamar mandi berdua sambil bergandengan mesra.  “Kalau ada yang melihat gimana Vit, ?” kata Satrio sedikit khawatir.
“Biarin aja, emang Vita pikirin,” jawab Vita sekenanya.  Mendengar itu Satrio menyalakan shower dan menarik tangan Vita. Mereka menyiram badan mereka tanpa melepas pakaian. Setelah beberapa saat Satrio meletakkan shower dan meraih pinggang Vita. Mereka terdiam dan saling pandang terhanyut dalam pikiran masing-masing. Suatu kesadaran bahwa mereka akan terpisah jarak dan waktu yang belum tentu. Perlahan Satrio mendekatkan bibirnya kebibir Vita dan mencium bibir tipis merah itu dengan lembut. Vita menyambut ciuman kekasihnya dan semakin merapatkan tubuhnya. Satrio semakin mempererat pelukannya, mereka semakin terhanyut dalam cinta dan birahi yang semakin memuncak.  “Vit,… jangan disini ah, kekamar yuk, !” kata Satrio sambil menggendong Vita. Vita tertawa riang dalam gendongan orang yang dicintainya itu. Kemudian mereka masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Satrio merebahkan tubuh kekasihnya dengan lembut dan Satriopun mulai mendekati Vita yang terlihat mulai tidak sabar menunggu.  “Vit,… aku sayang kamu, “ bisik Satrio sambil mencium bibir Vita dan kemudian leher Vita. Mendapat serangan seperti itu Vita mendesah dan semakin nekat. Vita melepas baju dan kaos yang dikenakan Satrio. Satrio tak menyangka Vita akan seberani ini, kemudian Satrio melepas baju Vita. Vita tak menolak bahkan membantu melepaskannya. Permainan mereka semakin jauh dan tak seorangpun tahu apa yang mereka lakukan dikamar itu.. Sampai suatu ketika Satrio melepas seluruh pakaian yang dikenakan oleh Vita. Kembali Vita tak menolak dan ketika Satrio melepaskan seluruh pakaiannya dan mereka berdua bertelanjang. Mereka saling pandang dan semakin mendekatkan wajah mereka berdua. Satria mencium Vita lembut dan dan membisikkan sesuatu.  “Vita,… apakah ini sudah pantas kita lakukan, ?” tanya Satrio.
“Sat,… aku akan menyerahkan semua milikku,… aku ikhlas Sat,… aku mencintai kamu… aku sangat menyayangi kamu, “ kata Vita dengan nafas masih memburu.  Satrio pun kemudian memulai lagi permainan mereka dan sampai akhirnya mereka berdua lemas seperti daun kering melayang tak berdaya tertiup angin.. Mereka terdiam beberapa saat memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan.  “Vit,… maafkan aku Vit… aku.. aku, “ Satrio tak melanjutkan kata-katanya karena jari Vita menutup bibirnya.  “Apa yang telah kita lakukan, kita berdua menginginkannya Sat,.. aku rela memberikan semua untuk kamu,” kata Vita sambil memeluk kekasihnya yang sangat dicintainya itu.
“Vit,.. apa ini Vit, ?” tanya Satrio sambil menunjuk kasur yang terlihat ada bercak darah,
yah,… darah keperawanan Vita. Vita telah menyerahkan sesuatu yang paling berharga kepada Satrio. Satrio memeluk Vita erat dan terlihat airmata berlinang di mata Vita.  Setelah itu kemudian mereka berdua mandi dan Vita ikut menjemput orang tua dan adhik-adhik Satrio ke Klaten. Jam tujuh malam mereka sampai di Klaten dan disana sudah banyak berkumpul saudara-saudara Satria.  “Wah cah bagus baru dateng nih,” kata Bude Yani sambil menciumi keponakannya yang paling disayang itu.  “Ini yang namanya Vita, Sat, ?” tanya Bude Yani sambil melihat Vita.  “Wah keponakan Bude ini memang paling pinter cari pacar,” kata Bude Yani memuji.  “Walah kamu cantik sekali ndok cah ayu,” kata Bude Yani sambil menggandeng tangan Vita dan mencium mengajak masuk. Vita dipuji seperti itu jadi tersipu dan melirik Satrio. Satrio pun melirik Vita sambil mengedipkan mata.
Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya sekitar jam 9 malam Satrio pulang bersama orang tua, adhik-adhiknya dan Vita. Dalam perjalanan Vita hanya diam saja terlihat diwajahnya kesedihan yang dalam. Mama Satrio yang melihat itu tak tega dan memeluk Vita sambil membelai rambutnya.
“Sudahlah Vita,.. tante ngerti perasaan kamu,… yang penting kalian berdua tetap saling percaya dan mengerti, Insya Allah kalian akan tetap bersama, “ mama Satrio mencoba menghibur Vita. Vita hanya bisa menangis dan merebahkan kepalanya dipundak mamanya Satrio. Nita dan Ira hanya diam saja melihat hal itu, sedangkan Satrio sekali-sekali melihat lewat kaca mobil. Satrio berusaha untuk tetap konsentrasi menyetir mobil.  Dia tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran oleh kekasihnya. Setelah sampai dirumah mereka semua masuk rumah dan Vita berlari masuk kamar Satrio. Memang hubungan mereka yang memang sudah seperti keluarga membuat Vita tak canggung lagi dirumah Satrio.  “Satrio,.. susul Vita tuh,” kata Pak Herawan sambil memegang pundak anaknya.
Tanpa menjawab Satrio menghampiri Vita yang menangis tengkurap ditempat tidurnya.
“Vit,.. Vita,…,” Satrio membelai rambut Vita. Vita membalik badan dan menghambur ke Satrio. Satrio memeluk erat kekasihya sambil membelai dan mencium kening Vita.  “Vita,… aku juga merasakan apa yang kamu rasakan Vit,… tapi mungkin ini jalan yang harus kita lewati dan kamu harus tegar dan tabah,” kata Satrio lembut.  Vita mencoba untuk berdiri dan mengusap airmatanya sambil menatap Satrio, kembali Vita tak kuasa menatap mata Satrio yang tajam, dia menunduk.
“Kamu cuci muka dulu, dan rapikan rambut kamu Vit, kamu harus pulang nanti papa mama kamu mencari-cari kamu, “ kata Satrio.  “Vit,… mama kamu telphon nih, “ kata mama Satrio sementara Pak Herawan dengan adhik-adhik Satrio asyik nonton TV.  “Kamu terima telphon dulu Vit, biar mama kamu nggak khawatir,” kata Satrio lembut.  “Kamu disitu Vit, ?” terdengar suara mama Vita ditelphon.  “Iya ma, bentar lagi pulang kok, “ kata Vita.  “Ya udah,.. jangan malam-malam kasihan Satrio kalau harus mengantar kamu terlalu malam,” kata mama Vita terlihat lega karena anaknya ternyata ada dirumah Satrio.  Selesai menerima telphon Vita mencuci muka dan merapikan pakaiannya.  “Sudah,..? tanya Satrio.  “Sudah, “ jawab Vita singkat.  “Kamu kelihatan semakin cantik kalau sudah rapi begitu Vit, “ puji Satrio dan seperti sudah menjadi kebiasaan Satrio setiap Vita selesai merapikan dirinya selalu mengucapkan itu.  “Mulai deh,… sudah dong entar kemaleman lagi,” kata Vita sambil menarik tangan Satrio.  Kemudian Satrio mengantarkanVita pulang, sesampai dirumah Vita Satrio pun tidak langsung pulang. Satrio ngobrol dengan orang tua Vita, kakak Vita dan Vita sampai larut malam. Sekitar jam 11.30 malam Satrio berpamitan dan Vita mengantar Satrio sampai mobil.  “Sat,.. jangan tinggalin Vita yah, walau Vita jauh dari kamu,” kata Vita sambil menunduk terlihat sedih.  “Tidak Vit,.. aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri,” kata Satrio sambil tersenyum dan membelai lembut pipi Vita.  Vita memegang tangan Satrio dan menahannya beberapa lama menempel dipipinya seolah tak ingin dilepaskan. Satrio mencium kening Vita dan membuka pintu mobilnya, Vita masih berdiri disamping pintu mobil seolah tidak rela kekasihnya pulang.  “Besok aku akan antar kamu sampai stasiun, sekarang kamu istirahat yah, “ kata Satrio sambil memegang tangan Vita. Satrio pun menghidupkan mobil dan meninggalkan rumah Vita. Vita memandang kepergian kekasihnya sampai hilang tak terlihat ditikungan.
Jam 7 pagi Satrio sudah rapi dan memanasi mobilnya bersiap mengantar Vita ke stasiun.
“Hallo,.. Hari,.. ?” tanya Satrio.  “Iya,.. ada apa Sat, ?” tanya Hari.
“Loe ada acara nggak hari ini Har, ?” tanya Satrio.
“Nggak ada, gue dirumah aja hari ini,.. kenapa Sat, ?” Hari ingin tahu.
“Kalau begitu temani gue nganter Vita ke stasiun yah, ?” pinta Satrio.
“Vita, ? dia jadi berangkat ke Jakarta Sat, ?” tanya Hari.
  “Iya,.. pokoknya elo sekarang kesini deh, “ pinta Satrio.
“Okey man,.. gue kesitu sekarang, “ Hari kelihatan mau menemani Satrio.
“Yup,.. gue tunggu,.. bye,” kata Satrio sambil menutup telphon.
Setelah Hari datang mereka berdua berangkat kerumah Vita setelah berpamitan sama orang tua Satrio. Sesampai dirumah Vita ternyata mereka sudah siap untuk berangkat.
Satrio memasukkan barang-barang yang akan dibawa kedalam bagasi mobil. Vita hanya memandang Satrio terlihat matanya berkaca-kaca.
“Sudah siap semua Om, semuanya ikut Om ?” tanya Satrio kepada papa Vita.
“Nggak Sat,… Om sama tante nggak ikut, “ jawab papa Vita.
“Har,.. loe yang nyetir ya, “ pinta Satrio pada Hari sambil berbisik.
“Okey boss,.. tenang saja, gue ngerti kok,” jawab Hari mantab seolah tahu apa yang ada dalam pikiran teman karibnya itu. “Mari mbak, “kata Satrio.  Kakak Vita kemudian masuk mobil dan Hari sudah masuk duluan menghidupkan mobil. Kakak Vita duduk didepan dan Satrio duduk dibelakang dengan Vita.  Sepanjang perjalanan Vita tidak melepaskan genggaman tangan Satrio dan terus menyandarkan kepalanya dipundak kekasihnya yang sebentar lagi akan berjauhan itu. Satrio membelai rambut Vita dan sesekali menghapus airmata Vita yang seolah nggak berhenti membasahi pipinya. Vita tak sanggup lagi untuk bicara, hanya sesekali memandang wajah Satrio dan kemudian merebahkan tubuhnya didada bidang orang yang dicintainya itu. Vita sempat mampir dirumah Satrio dan berpamitan dengan papa mama Satrio. Akhirnya sampailah mereka di Stasiun Tugu Jogja. Satrio dan Hari mengantar Vita dan kakaknya sampai masuk kegerbong kereta. Lima menit lagi kereta Argo Lawu jurusan Jakarta akan berangkat Vita pun semakin tak kuasa menahan airmatanya dia tak melepaskan pelukannya walau orang disekitar melihat mereka berdua. Sampai akhirnya terdengar bahwa kereta akan berangkat namun Vita tak juga melepaskan genggaman tangan Satrio.
“Vit,.. kereta akan berangkat,.. aku berdoa semoga kamu selamat sampai Jakarta bersama mbak Shanti,” kata Satrio dan terlihat mata Satrio berkaca-kaca tapi dia berusaha untuk tegar.
“Vit,.. aku mencintaimu selalu,. Now and forever, “ bisik Satrio pada Vita sambil mencium kening Vita. Kali ini Vita hanya bisa diam dan menatap Satrio dan Hari yang bergegas turun karena kereta sudah mulai berjalan. Vita melambaikan tangannya kepada Satrio sambil terlihat menangis. Satrio tak tega melihat itu semua. Hari merangkul sahabatnya itu sambil menghiburnya. Kereta pun sudah menjauh dan Satrio masih berdiri menatap kereta yang semakin jauh sampai akhirnya Hari mengajaknya untuk pulang.  “Sebentar Har,.. gue masih belum bisa meninggalkan stasiun ini,” kata Satrio meminta Hari untuk menunggu sebentar.  “Kalau begitu mari kita cari rumah makan dulu untuk sekedar minum,” ajak Hari.  Satrio hanya menuruti saja apa kata Hari yang tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hati sahabatnya itu. Hari memang teman Satrio yang paling dekat, Hari selalu curhat ke Satrio demikian juga sebaliknya Satrio pun selalu curhat ke Hari. Setelah merasa agak tenang dan dapat mengontrol diri Satrio pulang.  “Sudahlah Sat, cepat makan sana dari pagi kamu belum makan nanti kalau sakit kan mama juga yang repot,” kata mama Satrio sambil membelai anak laki-laki kesayangannya itu. Satrio memang satu-satunyam anak laki-laki Pak Herawan karena adhik-adhiknya cewek semuanya. Walau serba tercukupi apa yang diinginkan Satrio tidaklah manja, dia sering mendapatkan honor dari hasilnya menulis, bikin cerpen atau puisi dari majalah atau koran. Satrio bukanlah orang yang pelit, setiap mendapatkan honor dari hasil tulisannya dia selalu mengajak teman-temannya walau hany sekedar  minum dikantin. Yang tak pernah Satrio lupa adalah selalu membeli koran atau majalah yang memuat tulisannya kemudian menunjukkannya kepada Vita. Vita sangat menyayangi Satrio pertama yang dia lakukan ketika melihat tulisan kekasihnya dimuat adalah mencium dan memeluk kekasihnya itu. Papa mama Satrio pun baru tahu kalau anaknya sering membuat karya yang dimuat dikoran atau majalah setelah Satrio kelas 1 SMA. Padahal sejak Sekolah Dasar Satrio sering membuat sajak atau puisi atau sekedar cerita anak yang dimuat di majalah anak-anak.

“ UJIAN BUAT CINTA SATRIO “
Dua bulan sudah Vita pergi meninggalkan Satrio, selama satu minggu Satrio masih kelihatan sedih sepeninggal Vita. Namun setelah menerima surat pertama dari Vita Satrio kelihatan senang dan mulai bisa menerima keadaan bahwa saat ini dia berjauhan dengan Vita. Satrio sekarang lebih banyak dirumah dan tidak sering keluar seperti waktu Vita masih dirumah. Setiap pulang sekolah Satrio langsung pulang dan seperti biasa dia menulis puisi atau cerpen untuk dikirimkan ke koran atau majalah. Ada satu keinginan Satrio yang belum dapat dia wujudkan yaitu membuat sebuah novel. Melihat perubahan pada diri anaknya papa dan mama Satrio kelihatan senang. Suatu saat Satrio minta dibelikan komputer pada Papanya.  “Pa,..Satrio boleh minta sesuatu nggak, ?” kata Satrio pada suatu malam saat nonton TV bersama Papanya.  “Minta apa sih Sat,?” kata Papanya sedikit mengernyitkan kening melihat anaknya.  “Hmm,… gini Pa,… Satrio kadang males kalau ngetik, capek Pa,..” kata Satrio masih sedikit ragu ingin mengatakan keinginannya.  “Maksud kamu apa sih Sat, ?” kata Papa Satrio kelihatan kurang mengerti maksud anaknya.  “Maksud Satrio,… gimana kalau beli komputer Pa,.. Satrio punya tabungan dan Papa yang nambahin buat beli Komputer, ?” kata Satrio sambil mendekati Papanya.  “Sat, jualan Papa kan lagi sepi,… nanti kalau Papa punya duit, Papa beliin, “ jawab Papa Satrio sambil membelai anaknya. “Yah Papa,…” kata Satrio sambil ngeloyor pergi kekamar. Dua hari kemudian sewaktu Satrio pulang sekolah dia terkejut melihat dikamarnya sudah ada komputer lengkap dengan mejanya. Melihat itu masih memakai seragam sekolah Satrio berteriak kegirangan dan mencari Papanya. “Makasih ya Pa, “ kata Satrio kelihatan senang sambil mencium tangan dan pipi Papanya. Pak Herawan hanya tersenyum saja melihat tingkah anak laki-lakinya itu.
Sejak saat itu Satrio semakin rajin membuat cerita maupun sekedar puisi tidak seperti sebelumnya bila sudah terlihat capek Satrio males mengetik. Suatu siang disekolah Satrio kelihatan senang sekali dan bercanda dengan teman-temannya. “Selamat Sat,… cerita loe dimuat lagi di majalah Paramuda, “ kata teman-temannya memberi selamat kepada Satrio. Majalah Paramuda adalah majalah para kaum muda yang banyak digemari pada saat itu, dan karya-karya Satrio sering dimuat disitu. Sebenarnya kalau dilihat dari jurusan yang diambil Satrio sangatlah berlawanan. Satrio masuk kelas IPA sementara dia senang sekali membuat karya sastra. Mungkin karena bakat alaminya dan sudah sejak Sekolah Dasar Satrio senang membuat puisi atau cerita. “Satrio,…. “ terdengar suara memanggilnya.
Satrio dan teman-temannya melihat kearah suara yang memanggil Satrio dan mereka melihat dua orang cewek sedang berjalan kearah mereka dan terlihat tersenyum. “Sat,.. selamat yah,… cerita kamu bagus deh ,” kata cewek itu yang ternyata adalah Dewi adhik kelas Satrio.
“Eh,… makasih, “ jawab Satrio sedikit terkejut karena tak mengira Dewi tahu itu.
“Aku suka baca cerita dan puisi kamu yang dimuat di Paramuda, karena aku berlangganan majalah itu,” kata Dewi memberi tahu. “Oh,..” jawab Satrio singkat.
Sementara teman-teman Satrio hanya diam saja memperhatikan Satrio yang kelihatan gugup. Setelah memberi selamat kepada Satrio, Dewi kembali kekelasnya. “Siapa tuh cewek Sat ? boleh juga,“ kata Rudy teman Satrio yang paling suka ngocol. “Itu,.. si Dewi anak kelas dua, “ jawab Satrio.
Kemudian mereka berjalan kekantin dan makan minum disana. Setiap cerita atau puisi Satrio dimuat di majalah mereka sering makan dan minum dikantin bersama-sama.
“Sat,.. cewek yang tadi cakep juga tuh, dan kayaknya naksir deh sama eloe, “ kata Yanto.
“Iya, gue tahu kalau tuh cewek naksir ama gue, “kata Satrio santai sambil menyantap Soto ayam menu favoritnya di kantin itu. “Sikat aja Sat, “ kata Rudy menimpali.
“Gila loe ya,… gue nggak mau ngeduain Vita man, “ kata Satrio sambil terus menyantap Soto ayamnya. Alah Sat,.. si Vita kan sekarang di Jakarta apa salahnya ngelaba dikit Sat, “ kata Rudy.
“Sekali lagi loe ngomong gitu, gue tampar loe,.. “ kata Satrio menghentikan makannya.
“Sorry Sat,… gue kan cuma bercanda lagi,” kata Rudy sambil mendekati Satrio.
“Iya gue tahu, “ kata Satrio meneruskan makannya. Setelah selesai makan Satrio membayar semua makanan dan minuman mereka kembali ke kelas mereka. Sejak Vita pergi ke Jakarta setiap pulang sekolah Satrio kadang nongkrong dengan teman-temannya walau hanya sebentar. Siang itu Satrio masih males untuk pulang dan nongkron bersama teman-temannya di sebuah kafe tak jauh dari sekolahnya. Satrio bersama Hari dan Ganung nongkrong di kafe sambil ngobrol kesana kemari. Tanpa disadari oleh Satrio dan teman-temannya saat itu Dewi bersama seorang temanya mengikuti mereka dan ikut nongkrong di kafe itu dan Satrio tak melihat bahwa Dewi berada disalah satu pojok kafe itu sambil memperhatikan Satrio. “Gue heran sama eloe Sat,…sorry yah,… loe setia banget sama si Vita, padahal belum tentu Vita di Jakarta juga setia seperti eloe, “ kata Ganung sedikit serius.
“Karena gue yakin bahwa Vita nggak mungkin ngeduain gue Nung,.. gue ama dia udah berjanji untuk saling setia, “ kata Satrio dengan mimik yang agak serius pula. “Bukan gue bermaksud mempengaruhi eloe lho Sat, tapi kadang gue merasa bahwa eloe bisa ngedapetin cewek yang lebih dari Vita lebih dari satu,” kata Ganung bersemangat. “Iya gue tahu itu Nung,… tapi nggak tahu deh sampai saat ini gue nggak berpikir untuk mendua, “ kata Satrio sambil menghisap rokoknya. “Kamu terlalu mencintai dia Sat,… jadi ya begitu, “ kata Hari memberi pendapat. “Mungkin juga begitu Har,… gue merasa Vita telah memberikan semuanya untukku jadi gue percaya sama dia, dan gue nggak mau mengkhianati cintanya, “ kata Satrio. Sementara Dewi masih disitu memperhatikan Satrio sambil ngobrol dengan temannya dan minum lemon tea. “Sat,.. kayaknya ada yang memperhatikan loe dari tadi deh, “ kata Ganung sambil ngelirik kepojok kafe.
“Siapa Nung. ?” tanya Satrio. “Cewek yang tadi ngasih selamat ke eloe, “ jawab Ganung.
“Dewi maksud kamu, ?” tanya Satrio penasaran. “Lihat aja kepojok deket gambar mobil Ferrari, dia ada disana berdua dengan temanya, “ kata Ganung sambil melirik kearah Dewi.
Satrio kemudian menoleh kearah yang ditunjuk Ganung, dan memang Dewi disana dari tadi memperhatikan Satrio. Tahu kalau Satrio melihat kearahnya Dewi hanya menunduk sambil ngobrol dengan temannya. Setiap kali Satrio ngobrol dengan Hari dan Ganung, Dewi memperhatikan Satrio terus, tapi kalau Satrio menoleh kearahnya Dewi memalingkan wajahnya kepada temannnya dan terlihat agak malu. “Ajak gabung aja kemari Sat, pasti mau deh, “ kata Ganung memberi ide.
“Gimana Har, ?” tanya Satrio kelihatan ragu. “Hmm,… boleh juga biar tambah rame, “ kata Hari menyetujui. Tanpa di komando Ganung berdiri dan berjalan kearah tempat Dewi duduk. Ketika melihat Ganung menuju kearahnya, Dewi dan temannya memandang dengan tanda tanya.
“Wi,… gabung sama kami disana aja yuk, “ ajak Ganung.
“Hmm,.. gimana ya, “ jawab Dewi sambil melirik kearah temannya.
“Gimana,.. ? pada nunggu tuh, “ kata Ganung sambil melihat kearah Satrio.
Satrio dan Hari hanya tersenyum melihat kearah Ganung dan Dewi. Akhirnya Dewi dan temannya berdiri dan mengikuti Ganung menuju ke meja Satrio dan Hari. Beberapa saat suasana terlihat kaku dan terlihat Dewi hanya diam dan sesekali melirik Satrio. Sementara Satrio juga terlihat canggung saat bicara dimana Dewi tepat didepannya. Melihat hal itu Ganung berusaha mencairkan suasana dengan berbagai leluconnya. Terbukti bahwa mereka mulai bisa menghilangkan rasa canggung dan bisa tertawa dan bercanda kesana kemari. Mereka terlihat makin akrab dan Dewi pun tak canggung lagi untuk bicara dan tanya ini itu pada Dewi. Tanpa sepengetahuan Satrio, Ganung mengedipkan matanya kearah Hari dan sepertinya Hari tahu maksud Ganung. “Sat, kebelakang bentar yah mo pipis, “ kata Hari. “Iya deh, jangan lama-lama yah, “ pinta Satrio dengan sedikit tanda tanya.
Setelah Hari ke toilet terdengar hp Ganung berdering. “Ada apa ma ?” kata Ganung menjawab telepon. “Iya bentar lagi ma, “ kata Ganung. “Sat, keluar bentar yah mo jawab telpon nyokap gue, “ kata Ganung yang sebenarnya bukan dari mamanya tapi dari Hari yang sedang ada di toilet. Mereka berdua memang merencanakan sesuatu. “Awas,.. jangan lama-lama, “ jawab Satrio sedikit mengancam. “Bentar doang kok, “ jawab Ganung sambil berjalan meninggalkan mereka.
“Wi,.. gue kekasir bentar yah, entar tinggal pulang aja, “ kata Ratih temen Dewi.
“Lho kok pergi semua sih,..” kata Dewi tak mengerti. Melihat itu Satrio tahu bahwa ini rencana Ganung dan Satrio hanya diam saja. Setelah mereka pada pergi semua dan hanya tinggal Satrio dan Dewi suasana jadi sepi karena Satrio hanya diam demikian juga dengan Dewi.
“Wi,.. temen kamu yang tomboy itu kok nggak ikut, “ tanya Satrio memecah keheningan.
“Dia udah pulang duluan sama temen-temen, “ jawab Dewi menunduk nggak berani menatap mata Satrio. “Rumah kamu dimana sih, ?” tanya Satrio. “Di Ngawen, belakang SMA Muhammadiyah, “ jawab Dewi berusaha menatap Satrio. Ketika mata mereka bertemu, mereka terdiam sejenak dan Dewi menunduk tak kuasa menatap mata Satrio yang tajam bagai mata elang. Dewi merasa ada suatu getaran dalam hatinya dan jantungnya berdegup kencang. Satrio pun merasa ada perasaan aneh saat bertatapan dengan Dewi. “Kamu nggak dijemput sama cowok kamu Wi, ?” tanya Satrio memancing Dewi. “Hmm,.. aku belum punya cowok, “ jawab Dewi menunduk malu. “Wah…wah…wah,… kayaknya mesra banget nih, “ kata Ganung terlihat datang bersama Hari dan Ratih. Dewi hanya menunduk malu dan Satrio terlihat sewot karena tahu itu semua rencana Ganung dan Hari.
“Pulang yuk,.. udah jam setengah tiga nih, “ kata Ganung sambil melihat jam tangannya.
“Okey deh, kita pulang,… kamu ikut Satrio aja Wi, “ kata Ganung sambil melirik Satrio. Satrio hanya melotot saja mendengar kata-kata Ganung, sementara Dewi hanya diam menunduk sambil melirik kearah Satrio terlihat meminta persetujuan. Dalam hati Dewi sangat senang sekali mendengar kata-kata Ganung. Selama ini memang Dewi menyimpan perasaan suka pada Satrio.
“Mau nggak nganterin Dewi, ?” tanya Ganung. Dewi hanya menunduk saja sambil melirik ke Satrio yang terlihat agak bingung di cecar pertanyaan seperti itu oleh Ganung. “Trus Hari mo ikut siapa, ?” jawab Satrio dan Dewi terlihat lega dengan jawaban cowok yang ditaksirnya sejak lama itu.
“Hari ikut aku ke Wonosari nyari sepatu bola, “ jawab Ganung. “Ratih gimana, ?” Satrio masih bertanya lagi. “Lho gimana sih Sat, Ratih kan rumahnya cuma belakang sekolah ini, “ kata Hari memberi tahu. Akhirnya Satrio mengantarkan Dewi, sedangkan Hari dan Ganung ke Wonosari. Ratih yang rumahnya tak jauh dari situ diantar Ganung kemudian kembali lagi untuk mengajak Hari ke toko sepatu di Wonosari. Sepanjang perjalanan Satrio dan Dewi hanya saling diam, hanya sesekali Satrio bertanya dan Dewi pun hany menjawab singkat saja. “Akhirnya gue bisa juga deket sama cowok ini, enak juga diboncengin sama cowok ganteng,” kata Dewi dalam hati. Sebenarnya Satrio juga suka sama Dewi, cuma dia masih berusaha untuk tidak mengkhianati cinta Vita. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Dewi dan Satrio sedikit terkejut karena bertemu dengan Kepala Sekolahnya waktu SMP. “Kamu Satrio kan ? “ tanya mama Dewi sambil memperhatikan muridnya waktu SMP itu. Dewi agak kaget dan tersenyum melihat mamanya yang ternyata sudah mengenal Satrio. “Iya bu,… saya Satrio, “ jawab Satrio sambil melirik Dewi yang senyum-senyum saja.
“Ayo masuk dulu, “ kata mama Dewi sambil mendekati Satrio. “Terimakasih bu,… sudah sore, Insya Allah lain waktu saya mampir, “ jawab Satrio. “Bener lho lain waktu kamu mau masuk, “ kata mama Dewi sambil melirik anaknya. Dewi hanya senyum-senyum saja sambil melirik Satrio.
“Satrio pulang dulu bu, “Satrio berpamitan kepada mama Dewi. “Hati-hati ya Sat, !” kata Dewi sambil mendekati Satrio. “Iyah, “ kata Satrio singkat sambil melihat kearah Dewi yang tersenyum padanya. Satrio pun tersenyum dan menjalankan motornya pulang. Setelah Satrio pulang, sambil berlari-lari kecil riang Dewi masuk kekamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Matanya menerawang membayangkan Satrio yang baru saja mengantarnya pulang. Melihat tingkah anaknya mama Dewi hanya geleng-geleng kepala seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh anaknya. Saat ini Dewi memang bener-bener merasakan jatuh cinta pada Satrio. Sementara sesampai dirumah Satrio tidak langsung ganti pakaian tapi membiarkan tubuhnya terbaring ditempat tidur sambil memikirkan apa yang baru saja dia alami. Satrio seolah tak percaya
“dengan apa yang dia alami, karena selama ini hanya Vita saja cewek yang diboncengan Satrio sewaktu pulang sekolah. Setelah kejadian itu Satrio kadang mengantar Dewi pulang dan itu semakin membuat Dewi jatuh cinta pada Satrio. Teman-teman Satrio banyak yang bilang bahwa sebenarnya Dewi lebih cantik, lebih sexy dan lebih lembut dianding Vita. Namun Satrio tak menggubris kata-kata temannya walau dia juga menyadari bahwa apa yang dikatakan teman-temannya itu benar. Lama-lama Satrio kasihan melihat Dewi yang kelihatanya berharap sekali kepadanya. Akhirnya pada suatu hari Satrio mengajak Dewi untuk bicara dan Satrio mengatakan bahwa dia masih mencintai dan setia kepada Vita kekasihnya dan Dewi bisa mengerti hal itu walau sebenarnya hari Dewi hancur saat mendengar kata-kata Satrio. Tapi Dewi berusaha untuk tegar menerima kenyataan bahwa cowokk yang dicintainya itu telah memberikan cintanya kepada orang lain. Setelah itu sikap Dewi berusaha untuk tidak berubah dalam bersikap kepada Satrio. Dewi tetap perhatian dengan Satrio dan selalu mengingatkan Satrio bila Satrio salah. Sikap inilah yang kadang membuat Satrio semakin simpati kepada Dewi. Satrio kadang tak percaya dengan sikap Dewi yang masih tetap seperti sebelum Satrio mengatakan bahwa dia masih mencintai Vita. Dan Dewi tidak berusaha mencari cowok lain walau sebenarnya banyak cowok yang suka dengan Dewi, tapi Dewi tetap sendiri. Dalam lamunannya tiba-tiba terdengar telphon berbunyi, Satrio pun dengan malas bangun dari tempat tidur dan mengangkat telphon dengan suara yang agak malas. “Halo, siapa nih, ?” tanya Satrio.
“Kok kayaknya males amat sih Sat, ?” terdengar suara yang begitu dikenalnya. “Vita, ? gimana kabar kamu Vit, ? kamu lagi ngapain, ? gimana kuliah kamu, ? kangen nih,…” tanya Satrio terlihat kegirangan mendengar suara kekasihnya. “Aduh,… satu-satu dong Sat,…aku kangen kamu Sat, “ terdengar suara Vita tertahan. “Aku juga kangen banget sama kamu Vit,… kapan kamu pulang , ?” tanya Satrio. “Sebulan lagi aku libur semester dan aku pasti pulang,.. aku udah nggak tahan nih pingin jalan sama kamu, “ kata Vita. “Jalan apa jalan, ?” kata Satrio meledek Vita.
“Ih,.. mulai deh nakalnya, “ kata Vita terlihat senang sekali. “Aku kepingin seperti dulu lagi Vit, “ kata Satrio.“Sat,.. bentar lagi aku ujian semester, doain yah biar nilaiku bagus, “ pinta Vita.
“Tentu dong Vit,.. aku doakan kamu dapet nilai yang bagus,.. aku kan ikut senang kalau nilai kamu bagus, “ kata Sa

0 komentar: